Selasa, Oktober 07, 2008

KRISIS KEUANGAN AMERIKA

Barusan ini sebuah kabar telah mengejutkan semua para pelaku bisnis.
Sebuah kabar datang dari satu negara yang dianggap memiliki sebuah sitem yang sangat baik dan perekonomian yang dianggap kuat.
Amerika Serikat Sekarat...
Bidang perekonomiannya sedang dihempas oleh badai yang diakibatkan oleh suatu regulasi yang telah bertahun-tahun lalu disahkan demi menjaga stabilitas perekonomian Amerika, dimana the Fed (lembaga keuangan tertinggi di Amerika) menurunkan suku bunganya sampai dibawah 2% dalam 1 tahun.
Ini mengakibatkan meningkatnya budaya belanja yang sangat tinggi oleh warga negaranya.
Didalam mengatasi minat belanja yang sangat tinggi inilah pemerintah membuat suatu program kredit rumah yang sangat menarik yaitu untuk seseorang yang ingin memiliki sebuah unit rumah dapat mencari bantuan kredit yang bisa dicicil sampai 30 tahun (mortage) dengan bunga berkisar diangka 6%-7% dan mendapatkan keringanan pajak pandapatan. Wow... ini berarti semua orang dapat memiliki sebuah rumah impian mereka, namun eit tunggu dulu.
Tidak semudah itu semua orang mampu membeli rumah impian mereka, dibuatlah suatu rating kredit agar dapat membantu Bank Penjamin untuk memberikan kredit.
Untuk yang memiliki rating diatas 600 poin maka orang ini pasti mampu mendapatkan kredit pinjaman untuk pembelian rumah, jadi jika orang ini memiliki gaji atau pendapatan $ 100.000 dalam 1 tahun maka dia mampu dan berhak mendapatkan pinjaman untuk rumah dengan harga $ 250.000.
Cerita dimulai dari sini.
Para CEO otau para pemimpin perusahaan atau lembaga keuangan yang dipercaya oleh pemilik perusahaannya dikejar oleh target pertumbuhan ekonomi yang harus mereka penuhi tiap tahunnya dan besarannya berkisar di angka 20%/tahun, karena perusahaan yang ada di Amerika Serikat pada umumnya saham perusahaan mereka banyak dipegang oleh khalayak ramai, maka untuk mendapatkan image yang baik inilah para CEO perusahaan itu dituntut untuk mendapatkan profit yang tinggi. Para CEO ini dituntut untuk mendapatkan jalan baru untuk meningkatkan profit, jika tidak ada jalan baru maka buat jalan melingkar, jika tidak ada jalan melingkar maka buat jalan tol, jika tidak bisa maka HOSTILE (cara kasar dalam mendapatkan jalan di dalam suatu usaha), jika tidak bisa hostile maka dekati para pejabat untuk membuat regulasi baru, jika masih tidak bisa lagi maka beli Presidennya.....
Jiak seseorang CEO ditekan seperti ini maka mereka pasti akan mencari "jalan" yang mereka anggap baik. Maka terbentuklah yang namanya INVESTMENT BANKING, dimana lembaga ini mampu mencari pinjaman yang lebih luas daripada badan hukum bank, mampu menjual kredit lebih luas dari pada bank.
Mereka memangkas rating kredit yang tadinya harus diangka 600 menjadi 500 dengan alasan dan berbagai cara mereka menjual kredit ini agar makin banyak orang yang membeli rumah, kemudian muncul lagi sebuah regulasi baru dari pemerintah mengenai pengurangan pajak lebih banyak bagi orang yang mau mengambil rumah kedua, sehingga semakin banyak orang yang kembali menjaminkan rumah nya yang pertama utuk membeli rumah mereka yang kedua karena cicilan yang sangat murah tadi (bisa dicicil sampai 30 tahun).
Perekonomian pun bergerak dengan pesat, Amerika menjadi negara yang mata uangnya tidak lagi dijamin dengan emas melainkan dijamin dengan utang.
Invesment Banking tadi menjadi perusahaan yang sangat besar karena mereka mampu memberi kredit dalam jumlah yang sangat besar karena hampir semua orang di Amerika memiliki rumah, dana-dana panas inilah yang masuk kedalam negara-negara di Asia sehingga menaikkan indek harga saham negara-negara di Asia dalam 6-7 tahun belakangan ini.
Bagi masyarakat Amerika pun hal ini sangat menguntungkan mereka karena mereka menganggap bahwa harga properti atau rumah akan selalu naik karena semakin banyak orang yang mampu membeli rumah bahkan lebih daripada satu, sehingga enaikkan harga rumah menjadi sangat tinggi.
MASALAH PUN TERJADI
Ketika masalah pembayaran dan gaya hidup masyarakat Amerika yang sangat senang berbelanja ini mulai memicu terjadinya keterlambatan dalam pembayaran kredit pun terjadi, dan ini tidak dalam jumlah orang yang kecil namun secara bersamaan, kredit macet pun terjadi secara bersamaan, harga rumah yang sudah naik terlalu tinggi pun akhirnya jatuh karena lebih banyak orang yang inigin menjual rumah mereka karena untuk menutup kredit mereka yang sudah mereka anggap berat untuk diteruakan, invesment banking pun menjadi kelabakan karena rumah yang mereka sita ternyata harga jualnya sudah merosot sangat tajam, dimana hukum perdagangan pun terjadi lebih banyak penawaran daripada permintaan maka harga akan turun.
Kapanikan pun terjadi, balance sheet atau neraca keuangan investment banking pun menjadi tidak seimbang dimana piutang usaha sangat tinggi namun tidak diimbangi dengan aset dengan nilai yang memadai, kas pun tidak sebanyak yang ada di dalam neraca keuangan karena laba bukan berarti terdapat kas yang besar.
Panik selling pun terjadi dan PHK pun harus dilakukan oleh para perusahaan seperti JP MORGAN, LEHMAN BROTHERS, AIG, LLYOID dll.

Tidak ada komentar:

Powered By Blogger